Menghadapi Bully ala Alexa Gordon Murphy

Menghadapi Bully ala Alexa Gordon Murphy

Menghadapi Bully ala Alexa Gordon Murphy – Bully bukanlah masalah baru. Tanyakan pada orang tua dan kakek-nenek Anda, bisa dijamin mereka akan bercerita semua kisah-kisah tentang bully pada masa mereka bersekolah. Seperti halnya kebanyakan murid di sekolah di Indonesia, kita juga orang tua kita, mungkin pernah menyaksikan, mengalami, atau berpartisipasi membully, bercanda kelewatan, mendorong keras, mengancam, atau perilaku intimidasi lainnya di kelas, di taman bermain, atau di kantin saat istirahat sekolah.

Sayangnya bagi generasi lama, bully terkadang dianggap sebagai kewajaran. Padahal bully adalah penampakan kekerasan yang semestinya hilang di sekolah, di tempat yang justru harus dinetralisir dari setiap jenis aksi kekerasan. Anak-anak sekolah yang keterlaluan menggoda, melecehkan, dan sering kejam kepada sesama kawannya, bukan dan tidak pernah mencerminkan sikap pelajar.

Oleh karena itu Alexa Gordon Murphy dalam bukunya “Dealing with Bullying” menjelaskan bahwa tradisi purba para remaja menjelang dewasa ini adalah kesalahan besar. Lalu Alexa juga memberikan kiat-kiat menghadapi bully. Poin-poin utama pada buku Alexa antara lain :

• Bully bukanlah kebudayaan yang pantas untuk milenial. Namun, bully sulit di hadapi, karena orang-orang terutama para guru percaya bahwa intimidasi antar para pelajar hanyalah bagian dari tumbuh dewasa. Orang dewasa mengabaikan bullying, mengatakan, “Anak-anak tetaplah anak-anak.” Anak-anak dibiarkan saling intrik di antara mereka sendiri. Terserah mereka untuk belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang keras mulai dari sekolah.

• Sikap tentang buly memang berubah dalam beberapa dekade terakhir. Peristiwa bully mulai dipandang secara serius karena adanya sosial media. Apalagi mengacu pada periistiwa besar yang terjadi sebagai sebuah bully di Barat. Misalkan, tragedi seperti penembakan di sekolah Columbine Amerika Serikat yang dimulai dari bully, atau bunuh diri yang dilakukan oleh para Korban bully di Jepang serta Korea, serta beberapa kasus di India, Malaysia, dan kasus bully di Indonesia karena ketahuan bermain judi online yang diketahui oleh sang dosen sewaktu jam kuliah serta korban tersebut di bully oleh teman2 sekelasnya. Beberapa kasus ini umum, namun juga terumumkan. Artinya, kasus ini terangkat ke permukaan. Para ahli mulai mencari tahu peristiwa ini.

• Mengatasi kekolotan serta masalah kultur para pendidik di sekolah yang lebih senang menyembunyikan masalah adalah kunci dari pebuatan bully di sekolah.

• Memanfaatkan media serta tekanan para pihak politisi serta pemerintah untuk tidak mengabaikan masalah ini juga bagian dari pengentasan bully, sehingga pada akhirnya tercipta suatu kondisi puncak di mana bully dianggap sebagai musuh negara.

Menghadapi Bully ala Alexa Gordon Murphy

• Para korban bully harus bersatu dan menuntut guru, tidak saling berpisah, harus ada ruang konseling khusus di mana pihak terbully bisa melapor, dan pembully bisa dikonfortasi.

• Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini, tujuan utamanya adalah pasifikasi para pelajar, di mana pelajar harus menghindari konflik serta melakukan simulasi manajemen konfllik dengan baik, serta mengatur emosi agar tidak menggunakan jalan keluar lewat kekerasan.

• Bagi korban bully jangan hanya diam serba menuntut, melainkan harus juga aktif dalam kelompok, mengikuti les, kelas keterampilan bersama, mengikuti kepanduan, serta terlibat aktif dalam ekskul yang ada sehingga terjalin suatu keterikatan kelompok yang akan memulihkan harkat dan harga diri korban bully.

Alexa secara khusus juga menyebutkan bahwa faktor kepercayaan diri akan mengurangi kasus bully. Para siswa harus mampu mandiri, memiliki tekad, serta sikap berani melawan tirani dalam dirinya, bahkan siswa harus paham hukum, bahwa tindakan kekerasan bisa dipidanakan. “Dealing with Bullying” diterbitkan Infobase Publishing, 2009.

Lutfi Arya, Buku Melawan Bullying Menggagas Kurikulum Anti Bullying Di Sekolah

Buku Lutfi yang berjudul, “Melawan Bullying Menggagas Kurikulum Anti Bullying di Sekolah, ini merupakan buku yang wajib Anda miliki, terutama bagi Anda yang beprofesi sebagai guru di sekolah.

Dalam buku ini penulis menjelasakan cara merancang kurikulum anti-bullying bagi para guru yang tertarik melakukan penerapannya di sekolah atau pun di ruang publik yang rawan terjadi bully, di mana pendidik harus berperan aktif mencegah tindakan bully di manapun. Buku ini menjelaskan dengan detail mulai dari menelusuri bagaimana terjadinya perilaku buli serta tindakan kekerasan serta intimidasi di sekolah, serta bagaimana cara membuat kurikulum yang tepat untuk mencegahnya.

Artinya buku ini merupakan buku panduan yang cocok bagi para guru yang di buat oleh pemerhati bully. Para guru dituntut untuk jangan sampai terlena atau bahkan menganggap bully adalah fenomena anak remaja puber, yang biasa terjadi. Alasan-alasan yang kerap dibuat untuk menutupi kejadian bully adalah ini dinamika nya pertumbuhan anak muda atau karena masalah hormonal semata. Padahal hal itu tidak selalu tepat. Masalah pertumbuhan hormonal tidak membuat semua anak bersikap agresif pada sesamanya, artinya bully terjadi karena aksi sosial, ada kesempatan, ada ketidakseimbangan kekuatan, serta lemahnya pendidikan karakter.

Lutfi menegaskan tidak ada sekolah yang bebas peristiwa bullying 100%. Semua pihak wajib melihat ke dalam sekolahnya, Apakah benar konsep sekolah yang aman dan sejahtera bagi para peserta didik telah benar-benar bisa diwujudkan? Atau hanya sekedar rutinitas profesi dimana guru hanya memindahkan isi buku pelajaran ke dalam kepala anak, dan mengulang hari demi hari dengan cara yang sama hingga anak-anak lulus dari sekolah.

Dengan membaca buku Lutfi ini ini, mereka yang ingin tertatik terhadap peristiwa bully, akan mengetahui apakah suatu sekolah telah aman dari bully, atau memiliki tindakan preventif mencegah pembulian. Bagaimanapun, berdasarkan kisah-kisah yang terjadi selama ini, termasuk yang terjadi di Jawa Tengah, yang menyedot perhatian Gubernur Jawa Tengah, berakhir kontraproduktif. Sang korban menjadi trauma tidak ingin ke sekolah, sementara pembuli berurusan dengan polisi.

Oleh karena itulah, orang tua murid atau wali siswa harus sama-sama menekankan pentingnya kurikulum anti buli. Termasuk apa yang bisa dilakukan orang tua agar bisa berkerjasama dengan paa guru mencegah tindakan buli. Karena dari contoh yang ada di atas, saat buli terjadi pada akhirnya yang akan menjadi korban adalah pihak keluarga pembuli dan yang dibully. Tidak berlebihan jika orang tua murid harus menuntut lebih banyak kepada pihak sekolah untuk proaktif menerapkan kurikulum anti bully.

Melalui buku ini, sekolah serta pihak berkepentingan dapat menyusun kurikulum anti-bullying sendiri, secara sistematis dan sesuai kebutuhan sekolah serta beradaptasi dengan sumber daya yang tersedia. Melalui buku ini, diharapkan para praktisi pendidikan dan psikolog dapat mempraktikan pelajaran anti-bully pada komunitas sekolah. Tema anti bullying juga pernah di slogankan oleh situs https://multibet88.online untuk membantu komunitas sekolah dan memberikan pencegahan terhadap aksi bullying.

Semangat anti bully harus dibangun bersama-sama, tidak hanya dengan tindakan sporadis setelah terjadi peristiwa bully. Justru kurikulum di buat selain untuk mencegah, juga mendeteksi kemungkinan bully, lalu melakukan shutdown terhadap kejadian bully sebelum benar-benar terjadi.

Meskipun kita perlu menyadari bahwa menyelesaikan tindakan bullying di sekolah bukan perkara mudah. Akan halnya, jika bisa diterapkan di suatu sekolah, maka menjadikan sekolah itu lebih sejahtera, dan lebih menjamin pendidikan yang lebih baik kepada peserta didik. Buku Lutfi ini tersedia di toko buku, serta di situs jual beli online.

Dampak Bullying pada Kehidupan dan Hubungan Orang Dewasa

Bullying

Satu lagi buku yang penting untuk dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengentaskan bully di kalangan anakanak, remaja, di sekolah, sehingga mendorong para pemangku kebijakan untuk berbuat lebih banyak, lebih besar, dari apa yang belum mereka perbuat untuk mengatasi bully di Indonesia sekian lama ini. Buku dengan judul “Bullying Scars: The Impact on Adult Life and Relationships” buah karya professor psikologi Ellen Walser deLara dari universitas Syracuse Amerika Serikat.

Penelitian tentang bully telah meningkatkan kesadaran kolektif tentang dampak serius yang dapat terjadi pada anak-anak. Kita tidak lagi menerimanya sebagai suatu ritus masa perkembangan serta peralihan yang tidak berbahaya, hanya bagian dari tumbuh kembang yang bisa bikin nyengir dan diurus sisanya lewat saling bersalaman.

Padahal ada pertanyaan penting, pengalaman trauma adalah pengalaman trauman, di mana seseorang tumbuh dari pengalaman traumatik itu, efek yang ada bertahan lama, bayangan kita jika mau jujur, bukan sekedar masa sekolah yang indah, tapi juga bayangan tetang adanya anak pembuli yang kita pingin dia mati menderita, meskipun kita tidak menjadi korban buli.

Itulah pengalaman traumatis dan ternyata bertahan hingga dewasa. Pertanyaannya dalam buku tersebut, apakah ada konsekuensi seumur hidup atau efeknya cukup mempengaruhi pertumbuhan? Apakah sebagian dari kita lebih ulet daripada yang lain dalam move on? Apakah ada hasil positif atau tidak terduga sebagai hasil dari ditindas (atau pernah digertak) sebagai seorang anak?

Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, buku Ellen mencoba menguak Luka bullly dari masa kanak-kanak dari sudut pandang para korban, pelaku intimidasi, dan orang-orang yang ada di sekitarnya yang sekarang sudah dewasa; buku ini membahas bagaimana kehidupan telah direkayasa melalui pengalaman traumatik sejak masa kecil.

Penelitian yang dikumpulkan untuk buku ini, melalui wawancara dengan lebih dari 800 orang, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan orang dewasa, dari pegawai biasa, hingga politisi yang memegang keputusan besar pun dikendalikan oleh viktimisasi yang mereka alami sebagai anak-anak di tangan teman sebaya, saudara kandung, orang tua, atau pendidik.

Ditulis dengan gaya yang menarik dan mudah dicerna dalam bahasa keseharian entah penyajian data, wawancara yang dikumpulkan deLara, buku ini akan menarik bagi siapa pun yang ingin menghilangkan tradisi bully. Selain itu, sangat relevan untuk para guru, profesional di bidang kesehatan mental – konselor, terapis, pekerja sosial, psikolog klinis – yang berurusan dengan masalah ini. Catatan lain dari buku ini adalah :

•Buku ini memberi pembaca wawasan khusus tentang trauma yang dapat muncul dari fenomena yang tampaknya universal ini.

•Berdasarkan penelitian asli penulis dengan lebih dari 800 orang dewasa di seluruh sampel nasional yang beragam.

•Tidak ada buku di pasar yang membahas konsekuensi jangka panjang dari intimidasi masa kanak-kanak di masa dewasa.

•Buku ini berbasis penelitian tetapi sangat mudah dibaca, termasuk akun orang pertama, ingatan, dan pengamatan yang diambil dari ratusan wawancara.

•Setiap bab menggambarkan cara penting di mana intimidasi masa kecil mengubah seorang individu dan kemudian muncul sebagai aspek penting dalam kehidupan dewasa mereka.

Bullying adalah fenomena internasional. Tradisinya sama persis dari satu ke lain Negara, sehingga buku ini juga bisa jadikan rujukan terhadap tradisi bully yang terjadi di Indonesia. Sangatlah mengerikan jika bully didiamkan, maka orang dewasa seperti apa yang kita petik nantinya?

Unsur Penyebab Terjadinya Bullying

Unsur Penyebab Terjadinya Bullying

Unsur Penyebab Terjadinya Bullying – Hampir semua orang tahu dan paham jika ditanya mengenai salah satu perilaku bullying. Tindakan ini memang sudah banyak ditemui di beberapa wilayah, bahkan dari adanya perilaku bullying ini sudah banyak korban yang mengalami masalah psikologis, tentu saja menyembuhka luka tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Mempunyai dampak yang cukup serius dalam tumbuh kembang seorang anak karena mendapatkan bullying dari teman – teman tentu saja bullying semakin menjadi perhatian yang banyak disorot beberapa pihak. Jika ada kasus bullying terjadi berulang – ulang tentu saja hal tersebut harus segera mendapatkan penanganan yang serius. Tindakan ini tidak begitu saja bisa terjadi, biasanya ada beberapa hal yang mendasari terjadinya sebuah perilaku bullying yang dilakukan kepada orang lain.

Berikut ini ada beberapa unsur yang mendasari terjadinya perilaku bullying belakangan ini. Unsur pertama yang menyebabkan bullying terjadi adalah adanya ketidakseimbangan kekuatan. Biasanya perilaku bullying ini dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kekuatan yang lebih kuat dibandingkan dengan orang lain ataubahkan korban yang akan dibully. Bahkan biasanya orang yang mempunyai perilaku bullying ini biasanya mempunyai kasta yang lebih tinggi ataubahkan mempunyai status sosial yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Unsur lainnya yang biasanya mendasari terjadinya bullying ini adalah adanya niat untuk menyakiti orang. Tindakan ini memang secara fisik tidak melukai namun jika diperhatikan hasil dari tindakan ini mampu membuat luka permanen yang sangat sulit disembuhkan, pasalnya luka tersebut langsung membuat mental seseorang terluka, menyembuhkan luka psikologis yang terganggu tentu saja bukan hal yang mudah. Namun bagi orang yang melakukan bullying akan merasakan senang ketika dapat melukai korbannya itulah perilaku yang dimiliki bullying. Selain itu yang menyebabkan adanya bullying ini adalah tindakan menyakiti yang dilakukan berulang – ulang. Bullying bukanlah tindakan yang hanya dilakukan sekali saja, melainkan tindakan yang dilakukan secara berulang – ulang kali kepada korbannya.

Masih ada satu unsur yang dianggap paling mempengaruhi tindakan bullying. Biasanya korban bullying mendapatkan sebuah teror yang dilakukan oleh pelaku. Teror ini tentu menjadi senjata yang paling ampuh membuat seseorang menjadi terluka, bahkan dengan melakukan hal tersebut tujuan dari bullying lebih mudah untuk tercapai. Ketika pelaku sampai melakukan teror kepada korban bullyingnya maka bisa dipastikan korban akan mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa. Beberapa unsur yang telah dipaparkan di atas menjadi unsur yang menyebabkan terjadinya bullying. Masih ada beberapa penyebab lainnya yang mampu membuat seseorang untuk melakukan bullying. Anda juga perlu mengetahui bahayanya perilaku bullying jika dilakukan secara berulang – ulang, akan lebih baik jika mendukung diberhentikannya perilaku bullying di beberapa tempat sehingga tidak menambah daftar korban bullying. Anda yang terkena bullying juga bisa mengatasi perilaku bullying yang anda alami dengan mengakses situs https://homebet88.online yang memberikan berbagai informasi mengenai cara atau tips untuk mengatasi bullying yang di hadapi dengan sangat mudah.

Bekas Luka Bullying: Dampak pada Kehidupan dan Hubungan Orang Dewasa

Bekas Luka Bullying: Dampak pada Kehidupan dan Hubungan Orang Dewasa – Satu lagi buku yang penting untuk dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengatasi bully di kalangan anak-anak, remaja, di sekolah, sehingga mendorong para pemangku kebijakan untuk berbuat lebih banyak, lebih besar, dari apa yang belum mereka perbuat untuk mengatasi bully di Indonesia sekian lama ini. Buku dengan judul “Bullying Scars: The Impact on Adult Life and Relationships” buah karya professor psikologi Ellen Walser deLara dari universitas Syracuse Amerika Serikat.

Penelitian tentang bully telah meningkatkan kesadaran kolektif tentang dampak serius yang dapat terjadi pada anak-anak. Kita tidak lagi menerimanya sebagai suatu situasi dari masa perkembangan serta peralihan yang tidak berbahaya, hanya bagian dari tumbuh kembang yang bisa bikin nyengir dan diurus sisanya lewat saling bersalaman.

Padahal ada pertanyaan penting, pengalaman trauma adalah pengalaman trauman, di mana seseorang tumbuh dari pengalaman traumatik itu, efek yang ada bertahan lama, bayangan kita jika mau jujur, bukan sekedar masa sekolah yang indah, tapi juga bayangan tetang adanya anak pembuli yang kita pingin dia mati menderita, meskipun kita tidak menjadi korban buli.

Itulah pengalaman traumatis dan ternyata bertahan hingga dewasa. Pertanyaannya dalam buku tersebut, apakah ada konsekuensi seumur hidup atau efeknya cukup mempengaruhi pertumbuhan? Apakah sebagian dari kita lebih ulet daripada yang lain dalam move on? Apakah ada hasil positif atau tidak terduga sebagai hasil dari ditindas (atau pernah digertak) sebagai seorang anak?

Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, buku Ellen mencoba menguak Luka bullly dari masa kanak-kanak dari sudut pandang para korban, pelaku intimidasi, dan orang-orang yang ada di sekitarnya yang sekarang sudah dewasa; buku ini membahas bagaimana kehidupan telah direkayasa melalui pengalaman traumatik sejak masa kecil.

Penelitian yang dikumpulkan untuk buku ini, melalui wawancara dengan lebih dari 800 orang, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan orang dewasa, dari pegawai biasa, hingga politisi yang memegang keputusan besar pun dikendalikan oleh viktimisasi yang mereka alami sebagai anak-anak di tangan teman sebaya, saudara kandung, orang tua, atau pendidik.

Ditulis dengan gaya yang menarik dan mudah dicerna dalam bahasa keseharian entah penyajian data, wawancara yang dikumpulkan deLara, buku ini akan menarik bagi siapa pun yang ingin menghilangkan tradisi bully. Selain itu, sangat relevan untuk para guru, profesional di bidang kesehatan mental – konselor, terapis, pekerja sosial, psikolog klinis – yang berurusan dengan masalah ini. Catatan lain dari buku ini adalah :

• Buku ini memberi pembaca untuk menambah wawasan khusus tentang trauma yang dapat muncul dari fenomena yang tampaknya universal ini.

• Berdasarkan penelitian asli penulis dengan lebih dari 800 orang dewasa di seluruh sampel nasional yang beragam.

• Tidak ada buku di pasar yang membahas konsekuensi jangka panjang dari intimidasi masa kanak-kanak di masa dewasa.

• Buku ini berbasis penelitian tetapi sangat mudah dibaca, termasuk akun orang pertama, ingatan, dan pengamatan yang diambil dari ratusan wawancara.

• Setiap bab menggambarkan cara penting di mana intimidasi masa kecil mengubah seorang individu dan kemudian muncul sebagai aspek penting dalam kehidupan dewasa mereka.

Bullying adalah fenomena internasional. Tradisinya sama persis dari satu ke lain Negara, sehingga buku ini juga bisa jadikan rujukan terhadap tradisi bully yang terjadi di Indonesia. Sangatlah mengerikan jika bully didiamkan, maka orang dewasa seperti apa yang kita petik nantinya?

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial